"meski rasa telah mati
wujud tak lagi tertangkap mata
bahkan sekedar hembusan nafaspun tak terhirup
kau tetap hidup di hati ini
hidup untuk menjadi akar bagi kehidupan ku yang harus terus tumbuh"
serba mendadak, tiba-tiba !
aku jelas tidak mempersiapkan hati untuk menghadapi semua ini
hatiku ku persiapkan untuk sesuatu yang indah di depan sana
karena saat kemarin menurutku sedang mengarah ke hal yang baik
yah kembali lagi, semua ini hanya menurutku
hanya berdasarkan apa yang aku rasa
berdasarkan apa yang aku persepsikan
bukan kita...
gunung yang harus kita daki bersama
aku buta tentang gunung itu
aku buta arah nya, aku tak paham untuk apa kita mendaki nya
aku bahkan tak punya secuil pun kekuatan untuk melangkahkan kaki mencapai puncaknya
tapi kau menggenggam tanganku, kau tarik aku untuk kita daki bersama
kau berjalan di depanku untuk menjadi pemandu
kadang kita berhenti ketika merasa benar-benar lelah dan tak ingin untuk melanjutkannya
tapi aku tahu, kau benar-benar ingin mencapai puncaknya
dan aku sangat yakin, aku yang akan kau bawa untuk temani di puncak sana
tapi aku salah
sedikit lagi kita sampai dan seketika itu juga kau lepaskan genggamanmu
kau bahkan berlari tanpa meninggalkan jejak untuk aku jadikan arah
aku bukan hanya berhenti dan hilang arah
tapi aku terjatuh terlalu jauh, jatuh ke awal pendakian kita
jangan paksa aku untuk menerima semua itu
aku bukan tidak menerimanya, aku hanya merasa belum (yah semoga)
kali ini aku harus mendaki, sendiri
dengan sisa-sisa petuah yang kau beri
tentang maksud kenapa aku harus sampai di puncak itu
dengan jejak yang pelan-pelan harus ku raba
dengan kekuatan darimu yang akan terus hidup di hati
karena aku harus terus tumbuh dengan kau menjadi akarnya